Tadris IPA IAIN Parepare Hadirkan SALING-ETNO, Integrasikan Etnosains dan Kesadaran Lingkungan Siswa
Pinrang — Program Studi Tadris IPA IAIN Parepare melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Program SALING-ETNO: Gerakan Sekolah Berbasis Etnosains dalam Meningkatkan Kesadaran Lingkungan Siswa” di Pondok Pesantren Ittihadiyah Tanreassona, Kabupaten Pinrang, Jum'at (11/9/2026).
Kegiatan ini menghadirkan pembelajaran IPA yang lebih kontekstual dengan mengintegrasikan sains, pengetahuan lokal, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan. Sebanyak 56 siswa terlibat dalam rangkaian kegiatan yang dikemas melalui tiga aktivitas utama, yakni SALING-ETNO Explore, SALING-ETNO Create, dan SALING-ETNO Lab.
Sebanyak 31 siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) mengikuti SALING-ETNO Explore dan SALING-ETNO Create. Pada sesi Explore, siswa diajak mengenali dan mengeksplorasi lingkungan sekitar sebagai sumber belajar sains serta memahami keterkaitan antara pengetahuan lokal dan konsep-konsep ilmiah.
Eksplorasi tersebut kemudian dilanjutkan melalui SALING-ETNO Create, yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa melalui praktik pembuatan komposter dan eco printing. Aktivitas ini dirancang untuk menunjukkan bahwa pembelajaran sains dapat berangkat dari persoalan dan sumber daya yang dekat dengan kehidupan siswa.

Melalui pembuatan komposter, siswa diperkenalkan pada pengelolaan sampah organik serta proses alami yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kompos. Sementara melalui eco printing, siswa memanfaatkan bagian tumbuhan sebagai sumber warna dan motif alami pada media kain. Kedua aktivitas tersebut tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga mengajak siswa melihat potensi lingkungan melalui perspektif sains dan pemanfaatan yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, sebanyak 25 siswa Madrasah Aliyah (MA) mengikuti SALING-ETNO Lab. Dalam kegiatan ini, siswa memperoleh pengalaman melakukan pengamatan dan pengukuran kualitas air menggunakan sejumlah instrumen sederhana, termasuk water quality tester dan refraktometer.

Siswa mengamati berbagai parameter seperti pH, total dissolved solids (TDS), electrical conductivity (EC), dan salinitas, kemudian membandingkan hasil pengukuran dari beberapa jenis sampel air. Aktivitas tersebut diarahkan untuk membangun keterampilan observasi, interpretasi data, dan kemampuan menghubungkan hasil pengukuran dengan kondisi lingkungan.
Ketua Program Studi Tadris IPA IAIN Parepare, Imranah. M.Pd., menjelaskan bahwa SALING-ETNO dikembangkan untuk membawa pembelajaran IPA lebih dekat dengan realitas kehidupan siswa. Menurutnya, lingkungan dan pengetahuan lokal tidak semestinya hanya dipandang sebagai objek pembelajaran, tetapi dapat menjadi sumber untuk membangun pemahaman ilmiah.
“Melalui SALING-ETNO, kami ingin menunjukkan kepada siswa bahwa belajar IPA tidak selalu harus dimulai dari buku atau berlangsung di dalam laboratorium. Lingkungan di sekitar mereka adalah laboratorium yang sangat kaya. Apa yang mereka lihat, gunakan, dan praktikkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi titik awal untuk memahami konsep-konsep sains,” ungkap Imranah.
Ia menambahkan, pendekatan etnosains menjadi penting karena memungkinkan siswa memahami sains melalui konteks yang dekat dengan kehidupan dan budaya mereka.
“Etnosains menjadi jembatan antara pengetahuan yang tumbuh di masyarakat dengan pengetahuan ilmiah. Siswa tidak hanya diajak mengetahui suatu konsep, tetapi juga mengeksplorasi, melakukan pembuktian, menghasilkan karya, dan merefleksikan dampaknya terhadap lingkungan. Dari proses itulah kami berharap tumbuh kesadaran bahwa ilmu pengetahuan juga memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
Menurutnya, rangkaian Explore, Create, dan Lab sengaja dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang bertahap. Siswa tidak berhenti pada tahap mengenali lingkungan, tetapi diarahkan untuk mengolah gagasan menjadi tindakan dan menggunakan proses ilmiah untuk memahami fenomena yang mereka temui.
Program SALING-ETNO sekaligus menjadi wujud implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, oleh Program Studi Tadris IPA IAIN Parepare. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan dalam menghadirkan pembelajaran IPA yang inovatif, kontekstual, dan responsif terhadap potensi lokal.
Melalui kegiatan tersebut, Prodi Tadris IPA IAIN Parepare berharap sekolah dan pesantren dapat semakin mengoptimalkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Integrasi antara etnosains, aktivitas eksperimen, kreativitas, dan pendidikan lingkungan diharapkan mampu membentuk siswa yang tidak hanya memiliki pemahaman sains, tetapi juga memiliki kepedulian serta tanggung jawab terhadap lingkungannya.
SALING-ETNO membawa pesan bahwa sains tidak jauh dari kehidupan: lingkungan dapat dieksplorasi, pengetahuan lokal dapat dikaji secara ilmiah, dan hasil pembelajaran dapat diwujudkan menjadi aksi nyata untuk menjaga keberlanjutan.